PERSEPSI MUSLIM YANG KELIRU TERHADAP KERJA
A.
Pendahuluan
|
إِنَّ
اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
|
Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, kecuali mereka berusaha
bersungguh-sungguh mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. (QS.ar-Ra’d
[13]:11).[1] Ayat yang senada dalam al-Qur’an banyak kita temukan yang pada
dasarnya menjelaskan dan memberi makna pada kehidupan yang percaya pada campur
tangan Allah dengan menugaskan hamba-Nya yang patuh dan jujur tidak pernah
korup dalam mendistribusikan rezeki kepada semua makhluk di muka bumi. Hal ini
juga mendorong manusia berusaha untuk benar-benar menjadikan Allah sebagai
satu-satunya kekuatan yang berkuasa, dan melakukan amal perbuatan baik, secara
vertikal maupun horizontal.[2]
Sesungguhnya
Allah senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki
yang halal. (HR.
Ath-Thabrani).
Dalam hadis
diatas Allah telah menjelaskan bahwa Ia sangat senang melihat orang yang
bekerja bersusah payah untuk mencari rezeki yang halal lagi berkah. Namun dalam
bekerja, terkadang manusia tidak memiliki landasan untuk dijadikan petunjuk
yang baik dalam bekerja. Mereka melupakan iman dan takwa, sehingga bekerjapun
tidak memandang keberkahan dan halal atau haramnya pekerjaan tersebut. Disinilah
persepsi yang keliru dalam kerja, hal ini dapat mengakibatkan ketidakadilan,
kezaliman, dan merugikan orang lain bahkan dapat merugikan diri sendiri.
B.
Etos
Kerja Islami
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa seluruh aktivitas hidup manusia,
perlu dikaitkan dengan kesadaran dengan adanya akhirat. Akan tetapi naif,
manusia cenderung mudah kehilangan perspektif hidup yang hakiki karena mudah
terpengaruh oleh pesona duniawi yang mutlak fana. Dalam konteks pilihan bidang
kerja, upaya untuk memilih pekerjaan dan menumbuhkan etos kerja yang islami
menjadi satu keharusan. Tanpa upaya tersebut, yang bisa diraih semata-mata
nilai material yang secara kuantitas hanya menjanjikan kepuasan semu. Padahal
dibalik nilai material tersebut ada nilai yang lebih luhur, yakni nilai
spiritual barupa “berkah”. Bagaimanapun, penghasilan yang diperoleh dengan cara
tidak halal, cepat atau lambat akan menjadi sumber malapetaka bagi diri
sendiri, keluarga, masyarakat, negara, bahkan keluhuran agama.
Kerja dalam
pengertian luas adalah bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal
materi atau nonmateri, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang berkaitan
dengan masalah keduniaan atau keakhiratan. Adapun pengertian kerja secara
khusus adalah potensi yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya
berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidupnya. Islam
mempunyai perhatian besar terhadap kerja, baik dalam pengertiannya yang umum
maupun khusus. Dalam tradisi Islam, kerja dinilai sebagai sesuatu yang paling
tinggi, dan di lingkungan birokrasi pemerintah dan politik, kerja masuk dalam
kategori profesi yang sulit.[3]
Sebagai indikator umum, batapa banyak orang yang secara kasat mata
tampak sukses dalam meniti kehidupannya, baik sebagai ilmuan, hartawan, maupun
penguasa, namun keluarga yang bersangkutan hancur berantakan. Bahkan pada titik
ekstrim, beberapa kasus menunjukkan orang-orang terhormat yang melakukan
korupsi/manipulasi dengan menzalimi hak-hak orang banyak. Sebaliknya, jika kita
bekerja dalam koridor keberkahan, walau secara materi biasa-biasa saja, tetapi
tampak bahagia-nyaman-sejahtera, antara lain karena sehat, anak cucu sukses sehingga
menambah keluhuran dan kemuliaan keluarga. Dari kedua gambaran tersebut tampak
ada sesuatu yang hilang dalam kiprah yang dijalani, yaitu adalah keberkahan
hidup ![4]
Dalam bekerja harus ada persepsi yang baik, bukan dengan halal-haram-hantam,
tetapi dengan halal, baik dan tidak berlebihan. Perlu di ingat bahwa peraih
keuntungan dengan menimbulkan kerugian orang lain akan memicu kebencian, yang
kemudian menggumpal menjadi jeritan batin yang pada gilirannya bisa dikeluarkan
dalam doa-doa yang akan segera dijawab oleh Allah. Dalam ungkapan baku
disebutkan bahwa doa orang-orang yang teraniaya niscaya mustajab.
Ethos berasal dari bahasa yunani yang berarti ciri, sifat atau
kedewasaan, adat istiadat, atau juga kecendrungan moral, pandangan hidup yang
dimiliki oleh seseorang, suatu golongan atau bangsa.[5]
Pembahasan etos kerja ini penting untuk memberikan pemahaman yang
benar terhadap bagaimana islam memandang kerja. Perintah bekerja secara
eksplisit di dalam Al-Qur’an diiringi pula dengan pemberian motivasi agar
bekerja dilakukan dengan penuh keikhlasan dan dalam bingkai yang telah
ditentukan Rasul.
C.
Motivasi
Kerja Dalam Islam
Kehidupan manusia tidak lepas dari masalah usaha sebagai salah satu
perwujudan aktivitasnya, baik mental maupun fisik. Kekuatan motivasi dalam
bekerja dalam islam adalah fastabiqul-khairat (berlomba-lomba
dalam kebaikan). [6]Dengan
pekerjaan manusia dapat memperoleh kepuasan tertentu karena terpenuhi
kebutuhanya. Bekerja merupakan kegiatan pokok dari aktivitas kemanusiaan yang
dapat dibagi menjadi sejumlah dimensi, yaitu :
1.
Dimensi
fisiologis
Adalah dimensi yang memandang bahwa manusia bukanlah mesin. Manusia
dalam bekerja, tidak dapat disamakan dengan mesin. Mesin dapat melakukan tugas
secara terus menerus, dengan irama kerja yang monoton dan kecepatan yang
dikehendaki.
2.
Dimensi
psikologis
Dimensi kerja di samping merupakan suatu beban, juga merupakan
suatu kebutuhan. Denagan demikian bekerja juga merupakan upaya mengembangkan
kepribadian.
3.
Dimensi
ikatan sosial dan kelompok
Pekerjaan dapat menjadi pengikat sosial dan kelompok karena
pekerjaan dapat menjadi cara seseorang untuk memasuki suatu ikatan kelompok
tertentu. Dengan pekerjaan seseorang akan memperoleh teman-teman tempat
berkumpul, berdiskusi, menghalau kesepian atau aktivitas lain yang berarti.
4.
Dimensi
kekuasaan ekonomi
Ada 3 aspek: pertama, bahwa kekuasaan dalam bekerja selalu ada.
Kedua, bahwa pekejaan merupakan sumber mata pencaharian bagi seseorang,
pekerjaan dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi untuk masa sekarang aupun masa
yang akan datang. Ketiga, bahwa setiap orang dalam pekerjaan akan mmberikan
sumbangan berdasarkan apa yang sudah mereka lakukan.
Etos kerja dengan demikian adalah cara kerja yang memiliki tiga
dasar, yaitu :
1.
Keinginan
untuk menjunjung mutu pekerjaan.
2.
Menjaga
harga diri dalam melaksanakan pekerjaan.
3.
Kemampuan
untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui karya profesional.
Cara yang diberikan Rasulullah dalam memberikan tuntunan bekerja
juga dilakukan dengan memberikan motivasi. Motivasi Rasulullah memberikan nilai
terhadap hasil kerja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai
sedekah. Di samping itu, bekerja dinyatakan sebagai upaya menjaga diri.
Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan yang
dimiliki, sehingga tidak ada alasan yang dapat membenarkan orang tidak bekerja.
Untuk bekerja memang dibutuhkan kemampuan dan kemauan. Banyak orang yang
dilihat dari fisiknya mampu untuk bekerja, tapi tidak mempunyai pekerjaan
karena ia tidak mau bekerja. Begitu juga sebaliknya, mau saja tidak cukup untuk
melakukan suatu pekerjaan, apalagi di zaman yang persaingannya tinggi seperti
sekarang. Kalau seseorang tidak mempunyai kemampuan fisik ataupun kemampuan
teknis dan akademis sulit baginya untuk dapat masuk dalam lapangan pekerjaan
yang diinginkannya. Inilah yang menyebakan para tunakarya, yang akhirnya turun
kejalan menadahkan tangan, dan mengharapkan belas kasih orang lain. Kasarnya,
mereka meminta jerih payah orang.
D. Hawa Nafsu Merusak Nilai Kerja Sebagai Ibadah
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya,
bahwa bekerja keras mencari harta pada jalan yang benar adalah bagian dari
ibadah dan mencari keberkahan, berjalan pada jalan yang benar akan menghantarkan
kita pada ketentraman dan kebahagiaan yang sejati. Harta bukan tujuan, ia hanya
sebatas sarana untuk tukar-menukar manfaat dan memenuhi kebutuhan baik ibadah
(zakat, haji, infak, sadaqah), fisik (diri sendiri, keluarga, dan kerabat)
maupun sosial kemasyarakatan. Jika orang islam melihat dan menggunakan dunia
sebagai tujuan dan kenikmatan akhir, ia akan berubah menjadi hawa nafsu yang
mengantarkan peiliknya pada kerusakan dan kehancuran jangka panjang.[7]
Sebagaimana kita ketahui bahwa iblis
– setan akan berusaha memisahkan orang dari kedekatannya dengan Allah,
mendorong orang dalam bekerja untuk berlaku curang, tidak jujur, dia benci pada
pekerja yang rendah hati dan pemurah, dengan berbagai strategi dan jurus, iblis
– setan berusaha agar orang bekerja dengan pertimbangan hawa nafsu, salah satu
cara mengendalikan hawa nafsu, dilakukan adalah dengan meningkatkan rasa yang
takut atas kebesaran Allah, tajut atas neraca perhitungan Allah, dan takut atas
azab Allah, sebagaimana Allah menjelaskan dalam QS. An-Naazi’aat [79]: 40-41
|
وَأَمَّا
مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
|
|
40. Dan adapun orang-orang yang
takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa
nafsunya,
|
|
فَإِنَّ
الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
|
|
41. maka sesungguhnya syurgalah
tempat tinggal(nya).
|
|
|
Manusia berbeda dengan hewan, karena
hewan hanya memiliki naluri dan insting, sedangkan manusia dilengkapi dengan
akal pikiran sebagai alat mempertimbangkan rasionalitas suatu masalah, dan hati
nurani untuk mempertimbangkan baik buruknya suatu masalah. Keinginan untuk
bekerja keras, untuk kaya agar dapat menjadi dermawan dan menunaikan ibadah
haji adalah contoh hawa nafsu yang baik. tetapi ketika tujuan yang baik itu
dicapai dengan cara korupsi, menipu, menerima suap atau curang dalam kerja,
berarti tujuan itu telah dikotori oleh nafsu yang jahat.
Melawan hawa nafsu jauh lebih sulit
dibanding mengalahkan musuh ketika berperang, sebagaimana Rasullullah
menjelaskan ketika pulang dari perang badar dengan kemenangan yang gemilang:
“kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang besar.” Para sahabat
pun bertanya: “perang apakah itu ya, Rasulullah?” rasul menjawab: “berjuang
melawan hawa nafsu” agar terhindar dari kekuasaan hawa nafsu dan selalu berada
dalam agama Allah, agar setiap aktivitas yang kita lakukan tidak dirusak oleh
hawa nafsu kia sendiri.[8]
Islam merekomendasikan untuk mencari
harta sebanyak-banyaknya, tapi islam melarang keras apabila dalam mencapainya
menghalalkan segala cara. Renungkan dengan baik firman Allah ini: (QS. Al-Isra’
[17]: 70)
|
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ
خَلَقْنَا تَفْضِيلا
|
|
Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan.
|
E.
Persepsi
Muslim Yang Keliru Terhadap Kerja
|
يَعْمَلُونَ
لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ
وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ
الشَّكُورُ
|
|
13. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari
gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti
kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur .
Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih
|
Dalam cuplikan diatas Allah tidak
semata-mata hanya menyuruh hambanya untuk bekerja, tetapi Allah juga
menyediakan tempat untuk bekerja, melapangkandan menyerahkan bumi jagat raya
ini kepada manusia untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam usaha mencari
rezeki yang berkah, Allah juga mengingatkan agar manusia tidak lupa bersyukur
dan berterima kasih kepada-Nya. Dan diakhirat akan ditanya bukti syukur dan
terima kasih itu:
|
هُوَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا
مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
|
|
15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di
segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya
kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk [67]:
15)
|
Dua ayat ini merupakan prinsip yang
penting dalam islam, dan harus dipegang teguh oleh setiap muslim. Dalam
kapasitasnya sebagai khalifah mengemban salah satu fungsi untuk memakmurkan
bumi, oleh karena itu manusia dilarang bermalas-malasan. Namun, dalam persepsinya
manusia yang mampu bekerja secara fisik dan rohaninya, mereka malah
bermalas-malasan dan enggan bekerja. Mereka hanya berselimut tawakal kepada
Allah, hal ini merupakan kekeliruan yang terus berlanjut akan menimbulkan
kebodohan dan kemiskinan.
Tanpa berusaha, manusia akan
menghadapi kesulitan dunia maupun akhiratnya. Sebaik-baik makanan adalah
makanan dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan dari perbuatan yang tercela.
Rasulullah secara tegas menyatakan (1) sekiranya salah seorang diantara kamu
mengambil sehelai tali, lalu membawa seikat kayu bakar diatas bahunya lalu
menjualnya, hal itu lebih baik baginya daripada meminta-meminta kepada orang
lain, baik ia beri atau ia tolak (HR. Bukhari)[9],
(2) melarang umatnya untuk meminta-minta, karena perbuatan ini akan menurunkan
citra umat islam itu sendiri, (3) sedekah itu tidak halal bagi orang yang
mempunyai harta dan orang yang masih mempunyai harta dan orang yang masih
mempunyai kekuatan sempurna untuk berusaha (4) barang siapa meminta-minta
kepada orang lain untuk menambah hartanya tanpa sesuatu yang mendesak, berarti
telah menampar mukanya sendiri dan di akhirat nanti ia akan memakan batu membara
dari neraka (HR. Tirmizi)[10].
[11]Hadis
ini menunjukkan pentingnya (1) kemandirian ekonomi bagi setiap muslim, (2)
ketidaktergantungan kepada belas kasihan orang lain, (3) memiliki dorongan
untuk bekerja keras, berusaha sekuat tenaga, dengan satu niatan bahwa bekerja,
berusaha berbisnis merupakan sebuah ibadah yang bernilai tinggi, dan (4)
sebaliknya jika orang Islam mewariskan budaya malas dan meminta-minta padahal
dia mampu bekerja, berarti ia sudah memesan tiket kesulitan di hari akhirat.
Bekerja dalam pandangan islam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
hidup, tetapi juga merupakan suatu kewajiban agama, sehingga perlu diperhatikan
cara dan proses kerja yang akan membawa konsekuensi terhadap hasil. Namun
kenyataanya, sering terjadi kesalahan dalam memahami aturan islam, yang
menganggap bekerja hanya urusan duniawi saja, dan tidak memiliki dimensi
ibadah.[12]
Dalam paradigma manusia, konsep kerja atau pemahaman kerja belum
bisa dikatakan paham dalam artian luas atau sempurna. Banyak masyarakat yang
beranggapan bahwa kerja hanya untuk menghasilkan uang yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Jika tidak ada pondasi iman atau
akhlak yang baik di dalam diri manusia, maka mereka akan mudah terkena tipu
daya setan dengan memilih pekerjaan yang haram (tidak berkah). Mereka tidak
memahami ajaran kerja yang baik yang sesuai dengan tuntunan Allah swt. Padahal
kerja yang baik merupakan salah satu sarana ibadah untuk mengabdi kepada Allah
dan bersyukur kepada-Nya. Namun pada hakikatnya, manusia sendiri yang
menghilangkan arti kerja itu sebagai ibadah.
Zaman
yang modern pada saat ini bnyak ditemukan pekerjaan yang tidak melihat halal
atau haram, menghilangkan arti tanggung jawab, tidak memandang syariat kerja,
bahkan melalaikan Allah swt yang telah memberikan rezeki kepada umat manusia. “Misalnnya
para pejabat-pejabat tinggi yang mengejar jabatan, mereka bekerja dengan tidak
maksimal, ketika dia rapat dengan para pejabat lainnya, dia melakukan perbuatan
yang justru memalukan, yaitu tidur. Dari contoh diatas dapat dipahami bahwa
pajabat itu tidak bertanggung jawab dalam bekerja, hanya duduk di kursi jabatan
tanpa adanya kerja yang nyata. Pekerjaan itu memang halal, tapi dalam
persepsinya yang salah. Dalam pekerjaan itu, pejabat menganggap “yang penting
datang, duduk, mendengarkan”. Padahal dalam bekerja, kita hrus mengoptimalkan
pekerjaan kita dengan baik dan bertanggung jawab.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak
dikehendaki dalam persepsi kerja, perlu di tumbuhkan etos kerja yang islami
sebagai berikut.
1.
Niat
ikhlas karena Allah swt. Semata: bahwa perbutan manusia akan diperhitungkan
sesuai dengan niatnya (sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada
niatnya; dan seseorang akan memperoleh-pahala-sesuai dengan apa yang di niatkan-HR.Asy-Syaikhain).
Niat ikhlas akan menyadarkan bahwa:
a)
Allah
swt sedang memantau kerja kita,
b)
Allah
swt menjadi tujuan kita,
c)
Segala
yang diperoleh wajib disyukuri,
d)
Rezeki
harus digunakan dan dibelanjakan pada jalan yang benar,
e)
Menyadari
apa saja yang kita peroleh pasti ada pertanggung jawabannya kepada Allah swt.
2.
Kerja
keras; bekerja dengna sungguh-sungguh, sepenuh hati, jujur, dan mencari kerja
yang halal dengan cara yang halal pula. Orang yang bekerja keras dikelompokkan
sebagai mujahid di jalan Allah. Pesan Rasulullah saw.: sesungguhnya Allah
mencintai hamba-Nya yang bekerja dan terampil. Barang siapa bersusah payah
mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di
jalan Allah. (HR.Ahmad) ;sebaliknya islam mengutuk perbuatan bermalas-malasan.
3.
Memiliki
cita-cita tinggi.
Luth (2001 : 42) menunjukkan pula landasan moral kerja yang harus
dibangun. Menurutnya, landasan moral kerja telah didefinisikan sebagai
jilai-nilai dasar agama yang menjadi tempat berpijak dalam membangun dan
memulai kerja. Adapun landasan-landasan moral bekerja tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Merasa
terpantau; sesungguhnya menyadari bahwa segala apa saja yang dikerjakan tidak
pernah lepas dalam rekaman dan penglihatan Allah swt. (surah Az-Zalzalah
(99):7-8)[13]
2.
Jujur;
kesucian murni yang memberikan jaminan kebahagiaan spiritual karena kebenaran
berbuat, ketepatan bekerja, bisa dipercaya, dan tidak mau berbuat dusta (surah
az-zumar (39); 32-34)[14]
3.
Amanah;
seseorang memberi kepercayaan kepada orang lain karena orang tersebut dipandang
jujur. kepercayaan tersebut dipandang reward secara tulus dan tak ternilai
harganya pada orang yang jujur. Bukan sesuatu yang mustahil bila seseorang akan
terus menjadikan sifat jujur menghiasi aktivitasnya dalam bekerja maupun
kehidupannya sehari-hari. Sifat dan sikap ini segera akan menciptakan opini
publik yang secara positif ikut menghargai kebaikannya (surah Al-Anfal (8):
27-28)[15]
4.
Takwa;
melakukan apa yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang
dilarang agama. Dengan membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik dan menolak
segala yang tercela, secara otomatis menjadikan seseorang “berbeda” dari
kebanyakan orang. Takwa melahirkan manusia yang memiliki kepribadian terpuji,
diantaranya adalah pribadi yang taat beragama, pribadi yang gemar berbuat
kebajikan, dan pribadi yang tidak mau dikotori oleh perbuatan tercela.
Orang-orang bertakwa mendapat penghargaan yang lebih dari Allah.
Agar tidak mudah kehilangan
persepektif, manusia perlu secara terus-menerus berupaya merektualisasi diri
dalam ketiga aspeknya: kognitif-afektif-psikommotorik-melalui berbagai akses pencerahan
transendental sehingga apapun yang dilakukannya senantiasa terkait dengan
kesadaran Ilahiyah. Sehubungan dengan ini, Yusanto (2002: 114) telah
mengalurkan upaya pemeliharaan etos kerja dengan menguti beberapa hadis sebagai
berikut.
Islam
mendorong setiap muslim untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh
mencurahkan tenaga dan kemampuan dalam bekerja. Dorongan utama seorang muslim
dalam bekerja adalah bahwa aktivitas kerjanya itu dalam pandangan Islam
merupakan bagisn dalam ibadah, karena bekerja merupakan pelaksanaan salah satu
kewajiban, dan hasil usaha yang diperoleh seorang muslim dari kerja kerasnya dinilai
sebagai penghasilan yang mulia. Tidaklah seseorang diantara kamu makan suatu
makanan lebih baik dari pada memakan dari hasil keringatnya sendiri. (HR. AL-Baihaqi).[16]
Barang
siapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua
tangannya pada siang hari, maka pada malam itu dia diampuni. (HR. Ahmad).[17]
Sesungguhnya
Allah senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki
yang halal. (HR.
Ad-dailami).
Ya
Allah ! berikanlah keberkahan kepada umatku, pada usaha yang dilakukannya di
pagi hari. (HR.
At-Tirmizi).
Saking
cintanya Rasulullah saw. Pernah
mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz tatkala beliau melihat tangan kasarnya bekas
kerja keras, seraya berkata: ‘(ini adalah) dua tangan yang dicintai Allah’.
Disimpulkan bahwa seorang muslim
dalam menjalankan setiap pekerjaan haruslah bersungguh-sungguh dan penuh
semangat. Dengan kata lain, harus dengan etos kerja yang tinggi. Seorang muslim
adalah seorang pekerja lebih, mempunyai disiplin yang tinggi, produktif, dan
inovatif.[18]
[1]Al-qur’an al
karim.
[2] Hasan Ali. Manajemen
bisnis Syariah. (Yokyakarta: Pustaka Belajar, 2009). Hlm 1-2.
[3] Abdul Aziz Al Khayyath, Etika Bekerja
Dalam Islam ( Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm 22.
[4] Jusmalian, Bisnis berbasis syariah.( Jakarta: Bumi
Aksara, 2008). Hlm 75.
[5] Enizar, hadis
ekonomi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) hlm. 2.
[6] Ibid.
Hlm 70.
[7] Mujiarto
Aliaras Wahid,Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausaan, (Yogyakarta
: Graha Ilmu,2006) hlm.95
[8] Ali ikhwan.
2005. Menjadi Hamba Rabbani. Jakarta: pustaka maghfirah. Hlm 18.
[9] Sanad terakhir
hadis ini adalah abu Hurairah, dan diriwayatkan oleh muslim, al-Turmuzi,
al-Nasa’i, op.cit.,juz 5, hlm. 95-9; malik op.cit., hlm. 662.
[10] Shahih. HR
Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrani dalam
al-Mu’jamul-Kabir (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahih al-Jami’ish-Shaghir, no.
6281.
[11] Hasan Ali, op.cit,
hlm 64.
10 Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan
mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam
tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?: Dan orang yang membawa
kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa: Mereka
memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah
balasan orang-orang yang berbuat baik.
11
Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu
mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui:
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
[17] Shahih HR.
Ahmad. Musnad Imam Ahmad (kampung sunnah.org).
[18] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis
Syari’ah..., hlm. 80.
0 komentar:
Posting Komentar