Follow us

Selasa, 24 Februari 2015

Tagged Under:

Share

PERSEPSI MUSLIM YANG KELIRU TERHADAP KERJA
A.    Pendahuluan
إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, kecuali mereka berusaha bersungguh-sungguh mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS.ar-Ra’d [13]:11).[1] Ayat yang senada dalam al-Qur’an banyak kita temukan yang pada dasarnya menjelaskan dan memberi makna pada kehidupan yang percaya pada campur tangan Allah dengan menugaskan hamba-Nya yang patuh dan jujur tidak pernah korup dalam mendistribusikan rezeki kepada semua makhluk di muka bumi. Hal ini juga mendorong manusia berusaha untuk benar-benar menjadikan Allah sebagai satu-satunya kekuatan yang berkuasa, dan melakukan amal perbuatan baik, secara vertikal maupun horizontal.[2]
Sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ath-Thabrani).
Dalam hadis diatas Allah telah menjelaskan bahwa Ia sangat senang melihat orang yang bekerja bersusah payah untuk mencari rezeki yang halal lagi berkah. Namun dalam bekerja, terkadang manusia tidak memiliki landasan untuk dijadikan petunjuk yang baik dalam bekerja. Mereka melupakan iman dan takwa, sehingga bekerjapun tidak memandang keberkahan dan halal atau haramnya pekerjaan tersebut. Disinilah persepsi yang keliru dalam kerja, hal ini dapat mengakibatkan ketidakadilan, kezaliman, dan merugikan orang lain bahkan dapat merugikan diri sendiri.



B.     Etos Kerja Islami
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa seluruh aktivitas hidup manusia, perlu dikaitkan dengan kesadaran dengan adanya akhirat. Akan tetapi naif, manusia cenderung mudah kehilangan perspektif hidup yang hakiki karena mudah terpengaruh oleh pesona duniawi yang mutlak fana. Dalam konteks pilihan bidang kerja, upaya untuk memilih pekerjaan dan menumbuhkan etos kerja yang islami menjadi satu keharusan. Tanpa upaya tersebut, yang bisa diraih semata-mata nilai material yang secara kuantitas hanya menjanjikan kepuasan semu. Padahal dibalik nilai material tersebut ada nilai yang lebih luhur, yakni nilai spiritual barupa “berkah”. Bagaimanapun, penghasilan yang diperoleh dengan cara tidak halal, cepat atau lambat akan menjadi sumber malapetaka bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, bahkan keluhuran agama.
Kerja dalam pengertian luas adalah bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi atau nonmateri, intelektual atau fisik, maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah keduniaan atau keakhiratan. Adapun pengertian kerja secara khusus adalah potensi yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidupnya. Islam mempunyai perhatian besar terhadap kerja, baik dalam pengertiannya yang umum maupun khusus. Dalam tradisi Islam, kerja dinilai sebagai sesuatu yang paling tinggi, dan di lingkungan birokrasi pemerintah dan politik, kerja masuk dalam kategori profesi yang sulit.[3]
Sebagai indikator umum, batapa banyak orang yang secara kasat mata tampak sukses dalam meniti kehidupannya, baik sebagai ilmuan, hartawan, maupun penguasa, namun keluarga yang bersangkutan hancur berantakan. Bahkan pada titik ekstrim, beberapa kasus menunjukkan orang-orang terhormat yang melakukan korupsi/manipulasi dengan menzalimi hak-hak orang banyak. Sebaliknya, jika kita bekerja dalam koridor keberkahan, walau secara materi biasa-biasa saja, tetapi tampak bahagia-nyaman-sejahtera, antara lain karena sehat, anak cucu sukses sehingga menambah keluhuran dan kemuliaan keluarga. Dari kedua gambaran tersebut tampak ada sesuatu yang hilang dalam kiprah yang dijalani, yaitu adalah keberkahan hidup ![4]
Dalam bekerja harus ada persepsi yang baik, bukan dengan halal-haram-hantam, tetapi dengan halal, baik dan tidak berlebihan. Perlu di ingat bahwa peraih keuntungan dengan menimbulkan kerugian orang lain akan memicu kebencian, yang kemudian menggumpal menjadi jeritan batin yang pada gilirannya bisa dikeluarkan dalam doa-doa yang akan segera dijawab oleh Allah. Dalam ungkapan baku disebutkan bahwa doa orang-orang yang teraniaya niscaya mustajab.
Ethos berasal dari bahasa yunani yang berarti ciri, sifat atau kedewasaan, adat istiadat, atau juga kecendrungan moral, pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang, suatu golongan atau bangsa.[5]
Pembahasan etos kerja ini penting untuk memberikan pemahaman yang benar terhadap bagaimana islam memandang kerja. Perintah bekerja secara eksplisit di dalam Al-Qur’an diiringi pula dengan pemberian motivasi agar bekerja dilakukan dengan penuh keikhlasan dan dalam bingkai yang telah ditentukan Rasul.
C.     Motivasi Kerja Dalam Islam
Kehidupan manusia tidak lepas dari masalah usaha sebagai salah satu perwujudan aktivitasnya, baik mental maupun fisik. Kekuatan motivasi dalam bekerja dalam islam adalah fastabiqul-khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). [6]Dengan pekerjaan manusia dapat memperoleh kepuasan tertentu karena terpenuhi kebutuhanya. Bekerja merupakan kegiatan pokok dari aktivitas kemanusiaan yang dapat dibagi menjadi sejumlah dimensi, yaitu :
1.      Dimensi fisiologis
Adalah dimensi yang memandang bahwa manusia bukanlah mesin. Manusia dalam bekerja, tidak dapat disamakan dengan mesin. Mesin dapat melakukan tugas secara terus menerus, dengan irama kerja yang monoton dan kecepatan yang dikehendaki.
2.      Dimensi psikologis
Dimensi kerja di samping merupakan suatu beban, juga merupakan suatu kebutuhan. Denagan demikian bekerja juga merupakan upaya mengembangkan kepribadian.
3.      Dimensi ikatan sosial dan kelompok
Pekerjaan dapat menjadi pengikat sosial dan kelompok karena pekerjaan dapat menjadi cara seseorang untuk memasuki suatu ikatan kelompok tertentu. Dengan pekerjaan seseorang akan memperoleh teman-teman tempat berkumpul, berdiskusi, menghalau kesepian atau aktivitas lain yang berarti.
4.      Dimensi kekuasaan ekonomi
Ada 3 aspek: pertama, bahwa kekuasaan dalam bekerja selalu ada. Kedua, bahwa pekejaan merupakan sumber mata pencaharian bagi seseorang, pekerjaan dapat menjadi sumber kegiatan ekonomi untuk masa sekarang aupun masa yang akan datang. Ketiga, bahwa setiap orang dalam pekerjaan akan mmberikan sumbangan berdasarkan apa yang sudah mereka lakukan.
Etos kerja dengan demikian adalah cara kerja yang memiliki tiga dasar, yaitu :
1.      Keinginan untuk menjunjung mutu pekerjaan.
2.      Menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan.
3.      Kemampuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui karya profesional.
Cara yang diberikan Rasulullah dalam memberikan tuntunan bekerja juga dilakukan dengan memberikan motivasi. Motivasi Rasulullah memberikan nilai terhadap hasil kerja yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai sedekah. Di samping itu, bekerja dinyatakan sebagai upaya menjaga diri.
Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan yang dimiliki, sehingga tidak ada alasan yang dapat membenarkan orang tidak bekerja. Untuk bekerja memang dibutuhkan kemampuan dan kemauan. Banyak orang yang dilihat dari fisiknya mampu untuk bekerja, tapi tidak mempunyai pekerjaan karena ia tidak mau bekerja. Begitu juga sebaliknya, mau saja tidak cukup untuk melakukan suatu pekerjaan, apalagi di zaman yang persaingannya tinggi seperti sekarang. Kalau seseorang tidak mempunyai kemampuan fisik ataupun kemampuan teknis dan akademis sulit baginya untuk dapat masuk dalam lapangan pekerjaan yang diinginkannya. Inilah yang menyebakan para tunakarya, yang akhirnya turun kejalan menadahkan tangan, dan mengharapkan belas kasih orang lain. Kasarnya, mereka meminta jerih payah orang.







D.  Hawa Nafsu Merusak Nilai Kerja Sebagai Ibadah
           Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa bekerja keras mencari harta pada jalan yang benar adalah bagian dari ibadah dan mencari keberkahan, berjalan pada jalan yang benar akan menghantarkan kita pada ketentraman dan kebahagiaan yang sejati. Harta bukan tujuan, ia hanya sebatas sarana untuk tukar-menukar manfaat dan memenuhi kebutuhan baik ibadah (zakat, haji, infak, sadaqah), fisik (diri sendiri, keluarga, dan kerabat) maupun sosial kemasyarakatan. Jika orang islam melihat dan menggunakan dunia sebagai tujuan dan kenikmatan akhir, ia akan berubah menjadi hawa nafsu yang mengantarkan peiliknya pada kerusakan dan kehancuran jangka panjang.[7]
           Sebagaimana kita ketahui bahwa iblis – setan akan berusaha memisahkan orang dari kedekatannya dengan Allah, mendorong orang dalam bekerja untuk berlaku curang, tidak jujur, dia benci pada pekerja yang rendah hati dan pemurah, dengan berbagai strategi dan jurus, iblis – setan berusaha agar orang bekerja dengan pertimbangan hawa nafsu, salah satu cara mengendalikan hawa nafsu, dilakukan adalah dengan meningkatkan rasa yang takut atas kebesaran Allah, tajut atas neraca perhitungan Allah, dan takut atas azab Allah, sebagaimana Allah menjelaskan dalam QS. An-Naazi’aat [79]: 40-41
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

41. maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).


           Manusia berbeda dengan hewan, karena hewan hanya memiliki naluri dan insting, sedangkan manusia dilengkapi dengan akal pikiran sebagai alat mempertimbangkan rasionalitas suatu masalah, dan hati nurani untuk mempertimbangkan baik buruknya suatu masalah. Keinginan untuk bekerja keras, untuk kaya agar dapat menjadi dermawan dan menunaikan ibadah haji adalah contoh hawa nafsu yang baik. tetapi ketika tujuan yang baik itu dicapai dengan cara korupsi, menipu, menerima suap atau curang dalam kerja, berarti tujuan itu telah dikotori oleh nafsu yang jahat.
           Melawan hawa nafsu jauh lebih sulit dibanding mengalahkan musuh ketika berperang, sebagaimana Rasullullah menjelaskan ketika pulang dari perang badar dengan kemenangan yang gemilang: “kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang besar.” Para sahabat pun bertanya: “perang apakah itu ya, Rasulullah?” rasul menjawab: “berjuang melawan hawa nafsu” agar terhindar dari kekuasaan hawa nafsu dan selalu berada dalam agama Allah, agar setiap aktivitas yang kita lakukan tidak dirusak oleh hawa nafsu kia sendiri.[8]
           Islam merekomendasikan untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, tapi islam melarang keras apabila dalam mencapainya menghalalkan segala cara. Renungkan dengan baik firman Allah ini: (QS. Al-Isra’ [17]: 70)
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

 Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.



E.   Persepsi Muslim Yang Keliru Terhadap Kerja
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

13. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur . Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih
          
           Dalam cuplikan diatas Allah tidak semata-mata hanya menyuruh hambanya untuk bekerja, tetapi Allah juga menyediakan tempat untuk bekerja, melapangkandan menyerahkan bumi jagat raya ini kepada manusia untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam usaha mencari rezeki yang berkah, Allah juga mengingatkan agar manusia tidak lupa bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Dan diakhirat akan ditanya bukti syukur dan terima kasih itu:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk [67]: 15)
          
           Dua ayat ini merupakan prinsip yang penting dalam islam, dan harus dipegang teguh oleh setiap muslim. Dalam kapasitasnya sebagai khalifah mengemban salah satu fungsi untuk memakmurkan bumi, oleh karena itu manusia dilarang bermalas-malasan. Namun, dalam persepsinya manusia yang mampu bekerja secara fisik dan rohaninya, mereka malah bermalas-malasan dan enggan bekerja. Mereka hanya berselimut tawakal kepada Allah, hal ini merupakan kekeliruan yang terus berlanjut akan menimbulkan kebodohan dan kemiskinan.
           Tanpa berusaha, manusia akan menghadapi kesulitan dunia maupun akhiratnya. Sebaik-baik makanan adalah makanan dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan dari perbuatan yang tercela. Rasulullah secara tegas menyatakan (1) sekiranya salah seorang diantara kamu mengambil sehelai tali, lalu membawa seikat kayu bakar diatas bahunya lalu menjualnya, hal itu lebih baik baginya daripada meminta-meminta kepada orang lain, baik ia beri atau ia tolak (HR. Bukhari)[9], (2) melarang umatnya untuk meminta-minta, karena perbuatan ini akan menurunkan citra umat islam itu sendiri, (3) sedekah itu tidak halal bagi orang yang mempunyai harta dan orang yang masih mempunyai harta dan orang yang masih mempunyai kekuatan sempurna untuk berusaha (4) barang siapa meminta-minta kepada orang lain untuk menambah hartanya tanpa sesuatu yang mendesak, berarti telah menampar mukanya sendiri dan di akhirat nanti ia akan memakan batu membara dari neraka (HR. Tirmizi)[10].
           [11]Hadis ini menunjukkan pentingnya (1) kemandirian ekonomi bagi setiap muslim, (2) ketidaktergantungan kepada belas kasihan orang lain, (3) memiliki dorongan untuk bekerja keras, berusaha sekuat tenaga, dengan satu niatan bahwa bekerja, berusaha berbisnis merupakan sebuah ibadah yang bernilai tinggi, dan (4) sebaliknya jika orang Islam mewariskan budaya malas dan meminta-minta padahal dia mampu bekerja, berarti ia sudah memesan tiket kesulitan di hari akhirat.
           Bekerja dalam pandangan islam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga merupakan suatu kewajiban agama, sehingga perlu diperhatikan cara dan proses kerja yang akan membawa konsekuensi terhadap hasil. Namun kenyataanya, sering terjadi kesalahan dalam memahami aturan islam, yang menganggap bekerja hanya urusan duniawi saja, dan tidak memiliki dimensi ibadah.[12]
           Dalam paradigma manusia, konsep kerja atau pemahaman kerja belum bisa dikatakan paham dalam artian luas atau sempurna. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kerja hanya untuk menghasilkan uang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Jika tidak ada pondasi iman atau akhlak yang baik di dalam diri manusia, maka mereka akan mudah terkena tipu daya setan dengan memilih pekerjaan yang haram (tidak berkah). Mereka tidak memahami ajaran kerja yang baik yang sesuai dengan tuntunan Allah swt. Padahal kerja yang baik merupakan salah satu sarana ibadah untuk mengabdi kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Namun pada hakikatnya, manusia sendiri yang menghilangkan arti kerja itu sebagai ibadah.
           Zaman yang modern pada saat ini bnyak ditemukan pekerjaan yang tidak melihat halal atau haram, menghilangkan arti tanggung jawab, tidak memandang syariat kerja, bahkan melalaikan Allah swt yang telah memberikan rezeki kepada umat manusia. “Misalnnya para pejabat-pejabat tinggi yang mengejar jabatan, mereka bekerja dengan tidak maksimal, ketika dia rapat dengan para pejabat lainnya, dia melakukan perbuatan yang justru memalukan, yaitu tidur. Dari contoh diatas dapat dipahami bahwa pajabat itu tidak bertanggung jawab dalam bekerja, hanya duduk di kursi jabatan tanpa adanya kerja yang nyata. Pekerjaan itu memang halal, tapi dalam persepsinya yang salah. Dalam pekerjaan itu, pejabat menganggap “yang penting datang, duduk, mendengarkan”. Padahal dalam bekerja, kita hrus mengoptimalkan pekerjaan kita dengan baik dan bertanggung jawab.
           Untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki dalam persepsi kerja, perlu di tumbuhkan etos kerja yang islami sebagai berikut.
1.    Niat ikhlas karena Allah swt. Semata: bahwa perbutan manusia akan diperhitungkan sesuai dengan niatnya (sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niatnya; dan seseorang akan memperoleh-pahala-sesuai dengan apa yang di niatkan-HR.Asy-Syaikhain).
Niat ikhlas akan menyadarkan bahwa:
a)      Allah swt sedang memantau kerja kita,
b)      Allah swt menjadi tujuan kita,
c)      Segala yang diperoleh wajib disyukuri,
d)     Rezeki harus digunakan dan dibelanjakan pada jalan yang benar,
e)      Menyadari apa saja yang kita peroleh pasti ada pertanggung jawabannya kepada Allah swt.
2.    Kerja keras; bekerja dengna sungguh-sungguh, sepenuh hati, jujur, dan mencari kerja yang halal dengan cara yang halal pula. Orang yang bekerja keras dikelompokkan sebagai mujahid di jalan Allah. Pesan Rasulullah saw.: sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bekerja dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah. (HR.Ahmad) ;sebaliknya islam mengutuk perbuatan bermalas-malasan.
3.    Memiliki cita-cita tinggi.
Luth (2001 : 42) menunjukkan pula landasan moral kerja yang harus dibangun. Menurutnya, landasan moral kerja telah didefinisikan sebagai jilai-nilai dasar agama yang menjadi tempat berpijak dalam membangun dan memulai kerja. Adapun landasan-landasan moral bekerja tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Merasa terpantau; sesungguhnya menyadari bahwa segala apa saja yang dikerjakan tidak pernah lepas dalam rekaman dan penglihatan Allah swt. (surah Az-Zalzalah (99):7-8)[13]
2.      Jujur; kesucian murni yang memberikan jaminan kebahagiaan spiritual karena kebenaran berbuat, ketepatan bekerja, bisa dipercaya, dan tidak mau berbuat dusta (surah az-zumar (39); 32-34)[14]
3.      Amanah; seseorang memberi kepercayaan kepada orang lain karena orang tersebut dipandang jujur. kepercayaan tersebut dipandang reward secara tulus dan tak ternilai harganya pada orang yang jujur. Bukan sesuatu yang mustahil bila seseorang akan terus menjadikan sifat jujur menghiasi aktivitasnya dalam bekerja maupun kehidupannya sehari-hari. Sifat dan sikap ini segera akan menciptakan opini publik yang secara positif ikut menghargai kebaikannya (surah Al-Anfal (8): 27-28)[15]
4.      Takwa; melakukan apa yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang agama. Dengan membiasakan diri terhadap hal-hal yang baik dan menolak segala yang tercela, secara otomatis menjadikan seseorang “berbeda” dari kebanyakan orang. Takwa melahirkan manusia yang memiliki kepribadian terpuji, diantaranya adalah pribadi yang taat beragama, pribadi yang gemar berbuat kebajikan, dan pribadi yang tidak mau dikotori oleh perbuatan tercela. Orang-orang bertakwa mendapat penghargaan yang lebih dari Allah.
           Agar tidak mudah kehilangan persepektif, manusia perlu secara terus-menerus berupaya merektualisasi diri dalam ketiga aspeknya: kognitif-afektif-psikommotorik-melalui berbagai akses pencerahan transendental sehingga apapun yang dilakukannya senantiasa terkait dengan kesadaran Ilahiyah. Sehubungan dengan ini, Yusanto (2002: 114) telah mengalurkan upaya pemeliharaan etos kerja dengan menguti beberapa hadis sebagai berikut.
Islam mendorong setiap muslim untuk selalu bekerja keras serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga dan kemampuan dalam bekerja. Dorongan utama seorang muslim dalam bekerja adalah bahwa aktivitas kerjanya itu dalam pandangan Islam merupakan bagisn dalam ibadah, karena bekerja merupakan pelaksanaan salah satu kewajiban, dan hasil usaha yang diperoleh seorang muslim dari kerja kerasnya dinilai sebagai penghasilan yang mulia. Tidaklah seseorang diantara kamu makan suatu makanan lebih baik dari pada memakan dari hasil keringatnya sendiri. (HR. AL-Baihaqi).[16]
Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari, maka pada malam itu dia diampuni. (HR. Ahmad).[17]
Sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya bersusah payah (kelelahan) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-dailami).
Ya Allah ! berikanlah keberkahan kepada umatku, pada usaha yang dilakukannya di pagi hari. (HR. At-Tirmizi).
Saking cintanya Rasulullah saw. Pernah mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz tatkala beliau melihat tangan kasarnya bekas kerja keras, seraya berkata: ‘(ini adalah) dua tangan yang dicintai Allah’.
           Disimpulkan bahwa seorang muslim dalam menjalankan setiap pekerjaan haruslah bersungguh-sungguh dan penuh semangat. Dengan kata lain, harus dengan etos kerja yang tinggi. Seorang muslim adalah seorang pekerja lebih, mempunyai disiplin yang tinggi, produktif, dan inovatif.[18]






[1]Al-qur’an al karim.
[2] Hasan Ali. Manajemen bisnis Syariah. (Yokyakarta: Pustaka Belajar, 2009). Hlm 1-2.
[3] Abdul Aziz Al Khayyath, Etika Bekerja Dalam Islam ( Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm 22.
[4] Jusmalian,  Bisnis berbasis syariah.( Jakarta: Bumi Aksara, 2008). Hlm 75.
[5] Enizar, hadis ekonomi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013) hlm. 2.
[6] Ibid. Hlm 70.
[7] Mujiarto Aliaras Wahid,Membangun Karakter dan Kepribadian Kewirausaan, (Yogyakarta : Graha Ilmu,2006) hlm.95
[8] Ali ikhwan. 2005. Menjadi Hamba Rabbani. Jakarta: pustaka maghfirah. Hlm 18.
[9] Sanad terakhir hadis ini adalah abu Hurairah, dan diriwayatkan oleh muslim, al-Turmuzi, al-Nasa’i, op.cit.,juz 5, hlm. 95-9; malik op.cit., hlm. 662.
[10] Shahih. HR Ahmad (IV/165), Ibnu Khuzaimah (no. 2446), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabir (IV/15, no. 3506-3508). Lihat Shahih al-Jami’ish-Shaghir, no. 6281.
[11] Hasan Ali, op.cit, hlm 64.
[12] Ibid. Hlm 8.
9 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
10 Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?: Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa: Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik.
 11 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
[16] Husaini A. Majid Hasyim, Syarah Riyadhush Shalihin 2 (Surabaya, PT Bina Ilmu, 1993).
[17] Shahih HR. Ahmad. Musnad Imam Ahmad (kampung sunnah.org).
[18] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syari’ah..., hlm. 80.

0 komentar:

Posting Komentar

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *

Our Location